Singapura, 1 September 2025 — CEO Google Cloud, Thomas Kurian, menegaskan komitmen perusahaan untuk menjadikan penerapan kecerdasan buatan (AI) semakin mudah dan dapat diakses oleh siapa saja. Hal ini disampaikannya dalam konferensi AI Asia: Building Beyond Borders yang digelar di Singapura, Kamis lalu.
“Salah satu hal penting yang selalu ingin kami capai adalah membuatnya mudah bagi semua orang,” ujar Kurian. Ia menambahkan bahwa Google Cloud dibangun di atas infrastruktur global yang seragam dan saling terhubung, menangani sekitar sepertiga dari lalu lintas internet dunia setiap harinya.
Dengan dukungan kebijakan data yang kuat, Google Cloud memungkinkan pengguna untuk memodernisasi infrastruktur TI, mengembangkan aplikasi, memahami data secara aman, dan membangun solusi AI baru. “Kami juga menyediakan fitur keamanan dan kepatuhan, seperti Security Command Center, yang memberi kendali penuh atas data dan sistem,” tambahnya.
Kurian menjelaskan bahwa di atas fondasi tersebut, terdapat tiga pilar utama teknologi AI Google Cloud:
- Model AI kelas dunia seperti large language models (LLM), diffusion models, dan scientific models.
- Platform pengembangan agen dan aplikasi AI.
- Agen praktis untuk berbagai kebutuhan, mulai dari data sains hingga keamanan siber.
Pada kesempatan yang sama, Google Cloud juga mengumumkan kehadiran Gemini, model bahasa besar terbarunya, yang kini tersedia di wilayah Google Cloud Singapura. Gemini dapat diakses secara fleksibel—baik melalui cloud publik dengan jaminan residensi data, di lingkungan lokal (on-premises), maupun di edge.
“Dengan AI, kami memberikan katalis yang kuat bagi transformasi digital dan penciptaan peluang ekonomi baru,” ungkap Kurian.
Sementara itu, Managing Director Google Cloud Southeast Asia, Mark Micallef, mengungkapkan bahwa semakin banyak pemerintah, perusahaan besar, dan startup di Asia Tenggara yang mengadopsi AI Google Cloud untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Google Cloud memproyeksikan bahwa AI dapat mendorong nilai ekonomi Asia Tenggara hingga 270 miliar dolar AS, menandai pergeseran besar di kawasan ini menuju teknologi transformatif sebagai penggerak utama pertumbuhan.


