Jakarta, 8 September 2025 — Bank Indonesia (BI) menyatakan keyakinannya bahwa target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4 persen pada tahun 2026 sebagaimana tertuang dalam Rancangan APBN dapat tercapai. Optimisme ini didasarkan pada sinergi antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah, serta dukungan dari tren pemulihan ekonomi global.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa pihaknya “all out” dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dengan menjaga inflasi tetap rendah dan stabil.
“Dengan inflasi yang rendah, semua kebijakan kami ditujukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry saat Rapat Kerja dengan DPD RI secara daring, Selasa (8/9).
📊 Proyeksi dan Realisasi Pertumbuhan Ekonomi
BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam rentang 4,7 persen hingga 5,5 persen, dengan kecenderungan mengarah ke 5,3 persen. Namun, jika berbagai program dan sinergi kebijakan berjalan optimal, angka 5,4 persen dianggap realistis.
Adapun untuk tahun ini (2025), pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif. Pada kuartal II-2025, ekonomi tumbuh sebesar 5,12 persen (yoy), meningkat dari 4,87 persen (yoy) pada kuartal I. BI memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 bisa mencapai 5,1 persen, mendekati batas atas proyeksi BI sebelumnya di kisaran 4,6–5,4 persen.
📉 Inflasi Terkendali, Rupiah Stabil
Dari sisi harga, inflasi tetap terkendali. Pada Agustus 2025, tercatat deflasi sebesar 0,08 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 2,31 persen (yoy), masih dalam kisaran target BI yaitu 2,5±1 persen.
Sementara itu, nilai tukar rupiah menunjukkan kestabilan. Meski sempat menyentuh Rp16.500 per dolar AS akibat ketegangan politik dalam negeri, rupiah kembali menguat ke kisaran Rp16.414 pada awal September. Penguatan ini didukung oleh intervensi aktif BI melalui pasar spot, NDF, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.
🔄 Stabilitas Sistem Keuangan Jadi Prioritas
Perry juga menegaskan bahwa BI terus menjaga stabilitas sistem keuangan melalui koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS. Langkah-langkah stabilisasi dan penguatan likuiditas terus ditempuh untuk memastikan pasar keuangan domestik berjalan lancar dan responsif terhadap dinamika global maupun domestik.
🧭 Fokus ke Depan
Dalam jangka menengah, BI menaruh perhatian pada penguatan sektor riil, termasuk ekspor, perdagangan, transportasi, jasa, serta industri makanan dan minuman. Seluruh upaya diarahkan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjaga, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan.
“Kami akan terus menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan pasar keuangan, agar fondasi pertumbuhan ekonomi tetap kuat,” pungkas Perry.


