Jakarta, 8 September 2025 — Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank mencatatkan kinerja solid sepanjang semester I 2025. Lembaga ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp101 miliar, meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja positif ini ditopang oleh manajemen risiko yang baik, dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 37,3 persen dan penurunan rasio kredit bermasalah (NPF net) menjadi 4,1 persen.
Menurut Pelaksana Tugas Ketua Dewan Direktur merangkap Direktur Eksekutif LPEI, Sukatmo Padmosukarso, capaian tersebut menunjukkan komitmen LPEI dalam menjaga kesehatan keuangan sembari terus menjalankan mandat strategis sebagai motor penggerak ekspor nasional.
“Kami fokus pada perbaikan kualitas aset, sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha berorientasi ekspor, terutama melalui Penugasan Khusus Ekspor,” jelas Sukatmo dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa.
Hingga akhir Juni 2025, total pembiayaan yang dikelola mencapai Rp30,1 triliun. Sementara itu, volume penjaminan menyentuh Rp7,3 triliun, asuransi ekspor sebesar Rp4,6 triliun, dan transaksi trade finance tumbuh menjadi Rp10,7 triliun.
PKE Tumbuh Pesat, Fokus pada Sektor Strategis
Salah satu sorotan utama semester ini adalah peningkatan signifikan pada program Penugasan Khusus Ekspor (PKE), yang merupakan dukungan pembiayaan pemerintah untuk sektor-sektor prioritas dan kawasan non-tradisional. Pada semester I 2025, pembiayaan PKE mencapai Rp5,5 triliun, melonjak 72 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Porsi PKE terhadap total portofolio pembiayaan LPEI juga meningkat dari 10 persen menjadi 15 persen. Program ini telah mendorong ekspor di berbagai sektor strategis, termasuk farmasi — dengan produk seperti vaksin, obat-obatan, dan alat kesehatan buatan Indonesia yang kini menembus pasar global.
Dukungan Non-Keuangan untuk UMKM dan Desa Devisa
Di luar pembiayaan, LPEI juga memperluas mandat non-keuangannya melalui pelatihan dan pendampingan teknis. Sepanjang semester I 2025, sebanyak 192 Desa Devisa baru dikembangkan, sehingga total desa binaan sejak 2019 mencapai 2.037.
Program CPNE (Coaching Program for New Exporter) telah melatih 647 peserta, dan berhasil menghasilkan 209 eksportir baru, dengan nilai ekspor aktual mencapai Rp4,3 miliar. Tak hanya itu, 25 sesi business matching berhasil mencatatkan transaksi sebesar Rp1,86 miliar, mempertemukan pelaku usaha lokal dengan pembeli internasional.
Fokus ke Depan: Menjembatani Kebutuhan Pembiayaan Ekspor
Ke depan, LPEI akan terus memperkuat perannya sebagai lembaga keuangan khusus yang mengisi celah pembiayaan ekspor yang tidak dapat dijangkau oleh perbankan umum. Fokus akan diarahkan pada skema PKE, pembiayaan proyek luar negeri, serta fasilitas ekspor jangka pendek dan panjang.
Nilai ekspor nasional pada semester I 2025 tercatat mencapai USD135,41 miliar, tumbuh 7,7 persen dari tahun sebelumnya. Sukatmo menegaskan bahwa LPEI berkomitmen mendukung visi pemerintah dalam memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
“Kami ingin memastikan bahwa pelaku usaha di seluruh lapisan, dari desa hingga korporasi besar, memiliki akses ke fasilitas ekspor yang mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.


