Jakarta – Hampir setiap orang memiliki tahi lalat, bintik kecil berwarna cokelat hingga kehitaman yang muncul di berbagai bagian tubuh. Meski kerap dianggap sebagai tanda lahir biasa, ternyata tahi lalat bisa menjadi indikator kondisi medis tertentu, termasuk potensi kanker kulit.
Dalam istilah medis, tahi lalat dikenal sebagai nevus pigmentosus dan terbentuk akibat penumpukan sel melanosit, yaitu sel penghasil pigmen kulit. Tahi lalat dapat muncul sejak lahir, masa kanak-kanak, hingga dewasa muda, terutama sebelum usia 25 tahun.
Menurut informasi dari Primaya Hospital, sebagian besar tahi lalat bersifat jinak dan tidak berbahaya, namun tetap penting untuk memperhatikan perubahan pada bentuk atau jumlahnya. Faktor genetik, hormon, dan warna kulit turut memengaruhi kemunculan tahi lalat. Orang dengan kulit terang cenderung memiliki lebih banyak tahi lalat dibandingkan mereka yang berkulit gelap.
Meskipun kebanyakan tidak menimbulkan risiko kesehatan, tahi lalat bisa berkembang menjadi melanoma, jenis kanker kulit yang agresif, jika menunjukkan perubahan tertentu.
Ciri-Ciri Tahi Lalat yang Perlu Diwaspadai:
- Bentuknya tidak simetris
- Tepi atau pinggiran tidak rata atau kasar
- Warna bercampur (lebih dari satu warna)
- Diameter lebih dari 6 mm
- Mengalami perubahan ukuran, warna, atau bentuk
- Menimbulkan rasa gatal, nyeri, mengeluarkan darah atau cairan
- Jumlahnya sangat banyak, lebih dari 50 buah
Jika menemukan salah satu tanda di atas, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter kulit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Deteksi dini sangat penting agar potensi kanker kulit bisa ditangani sejak awal.
Selain faktor medis, letak tahi lalat juga bisa mengganggu aktivitas. Misalnya, jika tumbuh di area yang sering tergesek pakaian atau area wajah yang kerap dicukur, bisa menyebabkan ketidaknyamanan.
Tahi lalat dapat dihilangkan melalui prosedur medis seperti laser, bedah minor, atau cryotherapy, namun tindakan ini hanya disarankan jika benar-benar diperlukan secara medis atau estetika.


