Konflik Timur Tengah Picu Inflasi Naik dan Pertumbuhan Melambat

Must read

Businesstrack.id- Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran diperkirakan membawa dampak signifikan terhadap perekonomian global pada 2026. Bank Indonesia (BI) menilai kondisi ini berpotensi mendorong dunia menuju fase stagflasi, yaitu situasi ketika pertumbuhan ekonomi melambat sementara inflasi justru meningkat.

Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan turun menjadi 3,1 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,2 persen. Di sisi lain, tekanan inflasi diperkirakan meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen. Kombinasi ini mencerminkan kondisi ekonomi yang tidak ideal dan berisiko menekan daya beli serta stabilitas ekonomi dunia.

Dampak konflik tidak hanya terasa secara langsung di kawasan yang terlibat, tetapi juga menyebar melalui berbagai jalur, terutama sektor keuangan, komoditas, dan perdagangan internasional.

Di pasar keuangan, meningkatnya ketidakpastian mendorong investor global untuk menghindari risiko. Aliran modal cenderung beralih ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Akibatnya, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami tekanan berupa arus modal keluar dan pelemahan pasar keuangan domestik.

Dari sisi komoditas, konflik tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dunia hingga mendekati 100 dolar AS per barel. Posisi strategis jalur distribusi energi global menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi ini. Kenaikan harga minyak kemudian merambat ke berbagai komoditas lain seperti emas, batu bara, dan minyak sawit mentah, sehingga memperbesar tekanan inflasi.

Sementara itu, gangguan pada jalur perdagangan internasional menyebabkan meningkatnya biaya logistik dan asuransi pengiriman. Disrupsi rantai pasok ini berdampak pada berbagai sektor industri, termasuk bahan baku dan produk manufaktur, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang secara global.

Di dalam negeri, Indonesia tercatat mengalami arus modal keluar meskipun sebagian instrumen keuangan masih menarik minat investor. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal tetap memberikan pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Sebagai respons, berbagai negara diperkirakan akan mengadopsi kebijakan fiskal yang lebih longgar untuk menjaga pertumbuhan. Namun, kebijakan moneter cenderung dijalankan secara hati-hati mengingat tekanan inflasi yang masih tinggi.

Situasi ini menandai tantangan besar bagi perekonomian global, di mana ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi saling berkelindan, menciptakan risiko yang perlu diantisipasi oleh setiap negara.

 

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article