Bank Indonesia Suntik Likuiditas Rp217 Triliun, Dorong Kredit dan Stabilitas Ekonomi

Must read

Jakarta, 22 September 2025 — Bank Indonesia (BI) terus memperkuat peranannya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui suntikan likuiditas dan sinergi kebijakan moneter-fiskal. Sepanjang Januari hingga 16 September 2025, BI telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp217,10 triliun, termasuk program debt switching sebesar Rp160,07 triliun yang dilakukan bersama pemerintah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.

“Pembelian SBN dilakukan secara terukur dan transparan melalui mekanisme pasar, sejalan dengan arah kebijakan moneter yang kredibel,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (17/9).

Selain pembelian SBN, BI juga memperluas likuiditas melalui penurunan posisi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dari Rp916,97 triliun menjadi Rp716,62 triliun per 15 September 2025.

Dalam bauran kebijakan moneter, BI juga telah memangkas BI-Rate sebesar 125 basis poin sejak September 2024, yang kini berada di level 5,00 persen—terendah sejak 2022. Penurunan suku bunga ini ditujukan untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi dunia usaha dan rumah tangga.

Stabilisasi nilai tukar rupiah juga menjadi fokus BI melalui intervensi di pasar valas, baik off-shore maupun domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.

Sementara itu, kebijakan makroprudensial terus diperkuat lewat insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), yang hingga awal September 2025 telah mencapai total Rp384 triliun. Insentif ini disalurkan kepada berbagai kelompok perbankan, termasuk bank BUMN, BUSN, BPD, dan kantor cabang bank asing.

KLM diarahkan ke sektor prioritas seperti pertanian, perumahan, perdagangan, manufaktur, transportasi, pariwisata, UMKM, hingga sektor ekonomi hijau. Langkah ini sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah dalam mendorong penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi inklusif.

“BI akan terus mengoptimalkan insentif ini agar kredit perbankan tumbuh pada sektor-sektor strategis yang memberi dampak nyata terhadap ekonomi,” ujar Perry.

Dengan bauran kebijakan yang ekspansif namun terarah, BI berharap dapat menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan, di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.

 

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article